Skip navigation

Aktifitas Pendidikan Islam di masa tiga kerajaan besar
( kerajaan Usmani, Safawi dan Mughal)
Oleh : Thariq Modanggu

I. PENDAHULUAN
Tak sulit disepakati bahwa pendidikan merupakan masalah yang sangat urgen dan aktual sepanjang zaman. Dengan pendidikan, orang mengerti akan dirinya plus segala potensi kemanusiaannya, lingkungan masyarakat, alam sekitar dan yang lebih dari semua itu adalah dengan adanya pendidikan manusia dapat menyadari sekaligus menghayati keberadaannya di hadapan Khaliknya.
Urgensi dan aktualitas pendidikan –terutama sekali- sangat ditentukan oleh banyak hal, antara lain; (1) kondisi geografis dan demografis; (2) kondisi sosio-kultural suatu komunitas; dan (3) tingkat perkembangan budaya dan peradaban manusia. dan merupakan suatu hal yang natur bila ketiga kondisi ini senantiasa berubah dan bergerak dinamis.
Konsekuensinya, nyaris tidak ada yang selamanya baku dan mapan dalam dunia pendidikan, baik itu aspek substansi maupun aspek metodologis dari suatu sistem pendidikan. Sedangkan aspek yang relatif mapan dalam pendidikan adalah norma atau sistem nilai yang membentuknya, sebab masalah ini sangat terkait dengan persoalan teologis.
Pendidikan Islam bila ditelaah lebih seksama sesungguhnya merupakan media sekaligus sebagai seperangkat metodologi untuk mengejawantahkan nilai Islam dan nilai-nilai kemanusiaan dalam realitas kesejarahan.
Oleh karena itu, perkembangan awal pendidikan Islam sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW, baik dalam hubungannya dengan para sahabat dan sanak familinya maupun terhadap orang-orang yang memusuhi Beliau.
Dalam kaitan itu, Muhamad SAW sebagai Rasul Allah bukan saja bertanggungjawab terhadap teologi Islam , tetapi juga terhadap pokok-pokok etika, baik etika politik, ekonomi, hukum maupun moral serta akhlak diberbagai bidang lainnya, terutama bidang pendidikan.
Pada fase-fase berikutnya, pendidikan Islam terus mengalami perkembangan yang sangat beragam dan dinamis, sesuai dengan kondisi zaman dan terutama sekali ditentukan oleh penguasa yang mengendalikan pemerintahan atau kerajaan.
Berpijak dari kerangka berpikir di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada bagaimana aktifitas pendidikan pada masa Kerajaan Turki, kerajaan Safawi dan Kerajaan Mughal.
II. PEMBAHASAN
B. AKTIFITAS PENDIDIKAN DI TIGA KERAJAAN BESAR
1. Kerajaan Turki Usmani
Bangsa Turki Usmani lebih dikenal sebagai bangsa yang berdarah militer. Kegiatan mereka lebih difokuskan dalam bidang militer, sedangkan bidang pengembangan ilmu pengetahuan tidak terlalu menonjol. Akibatnya, dalam hal khazanah intelektual muslim tidak ditemukan ilmuan terkemuka dari Turki Usmani. Padahal salah satu indikator prestasi atau kemajuan suatu kerajaan atau dinasti ditentukan oleh unsur ketokohan yang memiliki prestasi gemilang.
Kendati demikian, Turki Usmani tetap memiliki perhatian terhadap kegiatan pendidikan. Sebab menurut Ira M. Lapidus, Kerajaan Usmani memberikan dukungan terhadap pendidikan Islam. Hal ini dapat dilihat dari penyebaran sistem pendidikan madrasah. Dalam hubungan ini, Madrasah Usmani yang pertama dibangun bertempat di Iznik pada tahun 1331 M. ketika itu sejumlah ulama didatangkan dari Iran dan Mesir.
Dalam perkembangan selanjutnya, dibangun pula beberapa perguruan du Burse, Edirne, dan di Istambul. Pada akhir abad ke 15 beberapa perguruan disusun dalam suatu hierarki yang menentukan jenjang karir bagi promosi ulama-ulama besar. Perguruan yang dibangun oleh Sulaiman tahun 1550 dan 1559 menjadi perguruan yang menempati rangking tertinggi.
Dari segi pengorganisasian Madrasah, tidak hanya dilihat secara hierarki rangking melainkan juga dilihat dari fungsi pendidikan. Madrasah tingkat terendah mengajarkan nahwu, Saraf, mantiq, teologi, astronomi, geometri dan retorika. Madrasah tingkat kedua menekankan pengajaran literatur dan retorika, sedangkan pendidikan tingkat tertinggi mengajarkan hukum dan teologi Dari gambaran ini tampak bahwa tingkatan Madrasah disesuaikan pula dengan materi pendidikan, sehingga tidak terkesan monoton, dalam pengertian materi dari setiap jenjang bukan itu-itu saja.
2. Kerajaan Safawi
Dalam realitas sejarah, khususnya sebelum datangnya Islam, bangsa Persia pernah menjadi salah satu dari dua bangsa yang memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi, di samping Romawi. Oleh karena itu tradisi keilmuan tersebut sangat boleh jadi berlanjut, atau paling tidak, turut mewarnai tradisi keilmuan pada masa kerajaan Safawi.
Puncak kejayaan Kerajaan Safawi terjadi pada masa kekuasaan Abbas I. Di satu sisi, secara politis ia dapat mengatasi berbagai kemelut yang terjadi di dalam negeri serta berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh raja-raja sebelumnya. Dan sisi lain, kerajaan Safawi mengalami banyak seperti kemajuan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan (pendidikan), serta bidang pembangunan fisik dan seni.
.
Aktifitas pendidikan Islam, antara lain tampak pada majlis istana, yang selalu menghadirkan beberapa ilmuan seperti Baha al-Din al-Syaerazi seorang generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi seorang filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, seorang folosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan laba-laba.
Kendati tidak terlalu banyak informasi mengenai aktifitas pendidikan, namun dari munculnya tokoh-tokoh ilmuan terkenal sebagaimana gambaran di atas, agaknya pendidikan pada masa kerajaan Safawi dapat dianggap telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup signifikan, untuk ukuran kondisi saat.
3. Pendidikan pada masa Kerajaan Mughal
Persentuhan Islam dengan wilayah India melalui tiga fase yaitu masa Bangsa Arab, Masa bangsa Turki yang dikembangkan oleh Ghaznawi dan masa Kerajaan Mughal (penduduk Mongolia).
Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Dengan demikian, Kerajaan Mughal merupakan kerajaan termuda di antara tiga kerajaan Islam (kerajaan Usmani, Safawi dan Mughal) setelah runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.
Melalui penguasaan Mughal, India saat itu menjadi pusat kebudayaan di berbagai bidang, seperti sutera, ilmu pengetahuan dan filsafat, seni dan lain-lain. Mulai dari masa itu telah muncul khoja-khoja, mulla-mulla, pir-pir dan fakir-fakir, yang kesemuanya merupakan ulama-ulama Islam yang berwibawa.
Sejarah India –sebelum akhirnya terbagi dua menjadi India dan Pakistan- telah melahirkan pula tokoh-tokoh terkenal seperti Sir Sayid Ahmad Khan, Shibli Nu’mani, Chirah Ali Hali dan Namir Ahmad. Begitu juga dengan penyair dan filosof Islam yang termashur Muhammad Iqbal.
Aktifitas pendidikan di masa kerajaan Mughal dapat dilihat dari fase, yaitu fase klasik dan fase modern. aktifitas pendidikan pada fase klasik jauh lebih kompleks dibanding fase modern. Pada fase klasik, terjadi kiemajuan dalam bidang intelektual, ilmu keagamaan, politik, peradaban, dan kebudayaan seperti ilmu pengetahuan dan filsafat. Sedangkan pada fase modern tidak tampak kemajuan yang berarti, sebab lebih cenderung mengikuti tokoh atau imam-imam besar pada masa klasik.
Di antara kegiatan pendidikan yang cukup menonjol pada zaman klasik adalah pengajaran dan pengembangan ilmu hadits, ilmu-ilmu al-Qur’an, tasauf, al-thib, filsafat, ilmu perbintangan, ilmu tabi’iyat (ilmu hewan, ilmu alam) ilmu kemiliteran, ilmu berburu, kecakapan berkuda sert ilmu politik dan kenegaraan.
Di samping itu, pengembangan bidang ilmu kebahasaan saat itu telah melahirkan kitab (kamus-kamus) penting seperti lisan al-Arab, al-Qamus al- Fiyar dan lain-lain. Karya-karya seperti ini tentu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pengembangan dan peningkatan tradisi-tradisi keilmuan sampai saat ini serta untuk masa yang akan datang.
Aktifitas pendidikan yang kemudian sangat menonjol di India terjadi ketika gerakan mujahidin yang dicetuskan Syah Waliyullah di abad ke 18, mulai memberikan perhatian serius terhadap masalah pendidikan. di antara pemuka gerakan mujahidin ini adalah Muhammad Qasmin Nantawi dan Maulana Muhammad Ishak. Mereka berusaha mendirikan perguruan tinggi agama dengan nama Darul Ulum Deobad, yang pada mulanya adalah suatu madrasah kecil di Deobad. Darul Ulum ini melahirkan ulama-ulama yang sangat memberikan pengaruh besar India, terutama bagi masyarakat awam.
Di perguruan ini yang ditonjolkan adalah ide-ide Syah Waliyullah, yaitu mengutamakan pemurnian tauhid yang dianut umat Islam India dari paham-paham tarekat. Kedua, pemurnian agama dari segala macam bid’ah. Dengan demikian target yang ingin diwujudkan oleh perguruan Deabond ialah Islam yang murni sebagaimana poada masa Nabi, sahabat, tabi’in dan sesudahnya.untuk mempertahankan semua itu deabond berpegang teguh pendidikan pada tradisi lama dan mazhab Hanafi. Di samping itu pembangunan perguruan ini juga sebagai salah satu reaksi untuk melawan kekuasaan Inggris, sekaligus menentang pendidikan sekuler Barat yang dibawa Inggris.
Salah satu aspek yang dapat dianalisis dari perguruan Daebond adalah bahwa tujuan pendidikan (dan tentu saja ditunjang dengan kurikulumnya) lembaga ini diarahkan sesuai kepentingan orang atau kelompok yang mendirikannya (gerakan Mujahidin). Secara Intern dimaksudkan untuk memantapkan pemahaman dan rasa keberagamaan ummat Islam dan secara ekstern untuk melawan pengaruh Barat.
Dari hal ini tampak (hikmahnya) bahwa pendidikan, dalam keadaan dan kondisi bagaimana pun, memang sangat dibutuhkan oleh manusia, baik untuk pengembangan dan pembinaan secara intern atau setiap individu maupun untuk kepentingan dan kemaslahatan hayat hidup orang banyak.
II. PENUTUP
Aktifitas pendidikan pada masa kerajaan Turki Usmani, kerajaan Safawi dan kerajaan Mughal, kendati belum seperti perkembangan pendidikan dewasa ini, namun aktifitas pendidikan di tiga kerajaan besar tersebut dapat dipandang sudah sangat maju, paling tidak untuk ukuran kondisi sekitar abad ke 15 s/d abad 17 M.
Keberadaan pendidikan pada ketiga kerajaan itu dapat disebut memiliki hubungan timbal balik dengan kiprah kerajaan. Dalam pengertian, pendidikan hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan negara, tetapi boleh jadi pula pendidikan menjadi tujuan negara.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K, A Study of Islamic History, diterj. oleh Adang Affandi dengan judul Studi Sejarah Islam, Cet 1, Bandung : Binacipta, 1995

Hart, Michael H. The 100 Rangking of the most Influensial Person In History, diterj. oleh Machbub Junaedi dengan Judul 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta : Suryo Garafindo, 1990

Hasjmy, A, Sejarah kebudayaan Islam, Cet. IV, Jakarta : Bulan Bintang, 1993
Lapidus. Ira M., A History of Islamic Societies, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan Judul Sejarah Sosial Umat Islam , Jilid satu & dua, Cet. II, Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2000

Mohd. Fachruddin, Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, cet. 1, Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1985

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah pemikiran dan Gerakan, Cet. 1X, Jakarta: Bulan Bintang, 1992

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet. IV, Jakarta : PT. RajaGrafindoPersada, 1996

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: