Skip navigation

TEORI PENDIDIKIAN;
PERSPEKTIF ANALISIS KEBIJAKAN
Oleh : Thariq Modanggu

A. Pendahuluan
Pada tataran empirik, sumber daya manusia yang kualified terbukti menjadi faktor yang sangat dominan dalam mendorong keberhasilna pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Sebagai contoh, negara-negara Asia seperti Jepang, Korea selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura, yang dipakai sebagai indikator kebangkitan ekonomi Asia, ternayata landasan kemajuan ekonominya tidak bertumpu pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi sesungguhnya lebih mengendalkan kualitas sumber daya manusianya.
Dalam kaitan itu, Bank dunia mengemukakan bahwa faktor utama yang mendoong pembangunan Asias Timur adalah kemampuan bidang pendidikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Deskripsi di atas merupakan salah satu well-processed dari pendidikan yang cukup sentral dalam kehidupan manusia. Pendidikan itu sendiri terus mengalami perubahan yang selalu dinamis, bahkan dalam batas – batas tertentu cenderung unpredictable

Oleh sebab itu, keberadaan pendidikan, baik dalam aspek softwarenya (tujuan, kurikulum dan sejumlah teori) maupun hardware (fasilitas, lingkungan dan terutama pelaku), mesti dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, kendati dalam hal-hal tertentu ada standarisasi dan ada pula yang dianggap mapan. konsekuensinya, ‘kajian ulang‘ untuk terus menyegarkan aktifitas pendidikan selayaknya menjadi suatu tradisi.
Bertolak dari kerangka pemikiran di atas , maka kajian dalam makalah ini akan menyoroti bagaimana teori fungsionalisme, teori hukum kapital dan teori empirisme dalam pendidikan . Untuk memberikan arah yang jelas dalam pembahasan ketiga teori ini, dipandang perlu menguraikan secara singkat pengertian dan fungsi teori pendidikan .

B. pembahasan.
1. pengertian teori pendidikan
Secara etimologis, teori berasal dari bahasa Yunani ‘ theooria’ bermakna memandang, memperhatikan pertunjukan . Sedangkan secara termologis, teori adalah : (a) pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa, kejadian dan sebagainya; (b) asas dan hukum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan; dan (c) pendapat , cara dan aturan untuk melakukan sesuatu.

Selanjutnya pendidikan, secara etimologis berasal dari bahasa latin ‘educare’ yang bermakna ‘mengatur keluar’. Sedangkan secara terminologis berarti proses pembimbingan manusia dari kegelapan, kebodohan, kecerahan pengetahuan .
Dalam perkembangannya kemudian, pendidikan dimaknai secara beragam oleh para pakar pendidikan dari berbagai kalangan, tergantung dari latar belakang dan sudut pandang yang berbeda-beda seperti sosio-kultural dan pemikiran dan pemikiran filosofis yang mendasarinya.
Menurut Abdullah Fadjar, pendidikan adalah proses yang membantu manusia dalam memperoleh kebijaksanaan, karena ia merupakan suatu proses yang komprehensif yaitu melatih daya emosional, intelektual dan sensual sacara simultan .
Dalam pengertian yang lebih cenderung bersifat teknis, pendidikan menurut John Milton adalah upaya membekali manusia untuk melaksanakan tugas dengan tepat, trampil dan murah hati, baik untuk pribadi atau untuk umum, di masa damai maupun di masa perang .

Alfred North Whitehead memberikan pengertian yang sangat sempit mengenai pendidikan , yaitu pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan . Pengertian ini dapat dipahami sebagai upaya pembatasan pendidikan hanya dapat konteks pembinaan dan pengembangan aspek intelektualitas.
Agak berbeda dengan Alfred , Dewantara memandang pendidikan sebagai usaha yang dilakukan seseorang ( pendidik ) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif. Pendidikan dalam pandangan Dewantara ini mendorong perkembangan anak didik secara alamiah , tetapi dikontrol kearah perkembangan yang positif.
Masih banyak lagi pengertian yang dikemukakan para pakar pendidikan yang tidak dapat disebutkan dalam pembahasan ini, tetapi yang jelas bahwa semua pengertian itu lebih kurang memiliki spirit dan subtansi yang relatif sama. Jika ada yang berbeda maka hal itu hanya dipengaruhi oleh titik tekan dan interest yang ingin dicapai dalam pendidikan .
2.Fungsi Teori Pendidikan
Secara umum fungsi teori ada sembilan yaitu (a) mengatur dan meringkas; (b) fungsi memfokuskan; (c) fungsi menjelaskan; (d) fungsi observasi; (e) fungsi frediksi; (f) fungsi heuristik; (g) fungsi komunikasi; (h) fungsi kontrol dan (i) fungsi generatif.
Dalam dunia pendidikan fungsi teori sangat penting sebab aktifitas pendidikan bukan suatu hal yang tentatif dan insidentil, tetapi merupakan upaya yang mesti terencana, sistematis, aplikatif dan berkelanjutan. Oleh karena itu kesembilan fungsi teori di atas sangat membantu dinamisasi dan interaksi pendidikan , mulai perumusan kebijakan pendidikan , perumusan tujuan, penentuan materi, metode, sarana-prasarana, lingkungan pendidikan dan terutama dalam perumusan serta pelaksanaan srategi belajar mengajar.
2. Teori – teori pendidikan
a. Teori fungsionalisme.
Dalam sejarah pendidikan kuno ada indikasi bahwa pendidikan sesungguhnya berakal pada kepercayaan-kepercayaan animis dan agama-agama mulai dari sejarah orang-orang Sumeria, Babilonia Persia, Yahudi, Kristen, Islam hingga agama-agama timur jauh. Dari data historis ini dapat diasumsikan bahwa pendidikan sesungguhnya terbangun di atas pondasi moralitas yang memiliki spirit yang relatif sama.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan tidak lagi semata-mata didasarkan pada tuntunan’ moral/ethik’ melainkan telah dikendalikan oleh kekuatan tertentu, terutama oleh penguasa, untuk menjaga dan mempertahankan struktural kekuasaan politik tertentu.
Ace Suryadi memberikan gambaran bahwa setelah perang dunia II, terjadi perang dingin antara Amerika Serikat dengan Rusia . Akibatnya muncul persaingan yang ketat dalam persenjataan nuklir dan program ruang angkasa. Kemampuan untuk saling menggungguli sangat tergantung pada superioritas dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian kedua negara tersebut sangat menggantungkan harapannya kepada sistem pendidikan yang mampu melahirkan para ilmuwan dan teknorat. Kondisi ini melatarbelakangi munculnya teori fungsionalisme.
Penganjur awal teori fungsionalisme adalah Burton Clack. Teori ini mencurahkan perhatian pada pendayagunaan sumber daya manusia intelektual secara efektif, sehingga akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kekuatan suatu negara.
Titik tekan teori fungsionarisme terletak pada sosiologi pendidikan, yang disebut dengan technological fungsionalism, yang ingin menjawab tantangan dari apa yang disebut dengan ascription, yaitu faktotr-faktor pembawaan seperti status sosial ekonomi, koneksi, jenis kelamin, keturunan dan karakteristik individual lainnya. Aspek-aspek ini kemudian memberikan pengaruh yang cukup berarti terhadap mekanisme seleksi dan promosi tenaga kerja.
Sebagai salah satu produk pemikiran para sosiolog pendidikan, teori fungsionalisme sejak tahun 1970 banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Penerapan teori ini dalam pendidikan dituduh terlalu membesar-besarkan pendidikan peranan sisi teknis pendidikan. Kritikan semacam ini datang dari Randell Collins, Bowles dan Gintis serta Young, yang mengatakan bahwa peranan sisi teknis pendidikan ini cenderung mengenyampingkan hakekat isi dan proses pendidikan itu sendiri.
Teori fungsionalisme ini dapat dipahami sebagai upaya para sosiolog pendidikan yang melihat bahwa pendidikan dapat dipacu dengan penggunaan teknologi. Dari upaya-upaya ini diyakini akan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas berpikir (intelek) untuk kepentingan penguasaaan dan pengembangan teknologi itu sendiri.
Dalam kaitan itu, kritikan terhadap teori ini cukup beralasan, sebab teori ini sesungguhnya hanya melihat aspek teknologi semata-mata, sementara aspek manusia (peserta didik) tak lebih dari sekadar instrumen bagi pengembangan teknologi
b. Teori Human Kapital
Konsep mengenai investasi sumber daya manusia (human capital) yang dipandang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith dan para teorisi klasik lainnya sebelum abad ke – 19. Teori ini menekankan peran investasi keterampilan manusia.
Pada tahun 1960-an, thedore Schultz dan Denison mengemukakan bahwa pendidikan memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan pendapatan negara, dalam hal ini melalui peningkatan ketertampilan dan kemampuan dari produksi tenaga kerja. Penemuan ini telah mempengaruhi timbulnya sejumlah penelitian mengenai nilai ekonomis dari pendidikan.

Pandangan tentang teori human capital melemah pada tahun 1970-an di beberapa negara, khususnya Amerika Serikat. Hal itu diakibatkan oleh kritikan para sosiolog pendidikasn bahwa teori ini hanya menekankan segi material dari manusia, sehingga dikhawatirkan dapat menghilangkan pengembangan aspek-aspek kebudayaan.
Kendati demikian, Bank Dunia mulai tahun 1980-an dan beberapa program, bantuan internasional lainnya mulai mengukuhkan kepercayaan terhadap peranan investasi modal manusia (human capital) terhadap pertumbuhan ekonomi.
Secara gamblang teori human capital ialah suatu aliran pemikiran yang mengganggap bahwa manusia merupakan suatu bentuk kapital sebagaimana bentuk-bentuk kapital lainnya, yaitu teknologi, mesin, tanah, uang dan sebagainya. Dan investasi seperti ini dianggap sangat menentukan pertumbuhan produktivitas suatu bangsa . Melalui investasi dirinya sendiri, seseorang dapat memperluas alternatif untuk memilih profesi, pekerjaan atau kegiatan-kegiatan lainnya, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Cara berpikir yang tertuang dalam human capiral sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan teori fungsionalisme. Kedua teori ini memekankan funhgsi teknologis dari pendidikan dan pendayagunaan sumber daya manusia yang efektif. Perbedaannya hanyaqlah terletak pada result oriented. Human capital diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia untuk membangun sistem perekonomian, sementara teori fungsionalisme berorientasi pada pengembangan potensi-potensi bawaan seperti; status esoal ekonomi, koneksi, jenis kelamin, keturunan dan karakter individual lainnya. Hal ini dipandang dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap mekanisme seleksi dan proimosi tenaga kerja.
c. Teori empirisme
Pusat perhatian dari aliran pemikiran ini adalah kombinasi antara metodologi dan substansi, khususnya dalam melakukan diagnosis terhadap masalah-masalah pemerataan pendidikan.
Perbedaan pendapat tentang aspek pemertaan pendidikan dalam abad ke – 20 telah menjadi sumber perpecahan politik yang tajam, khususnya yang berkaitan dengan perselisihan antar kelas-kelas sosial dalam masyarakat; suku bangsa dan bahkan antar jenis kelamin. Dengan meluasnya paham egalitarianisme setelah perang dunia ke – 2, maka tuntutan masyarakat luas untuk pemerataan dan perluasan kesempatan pendidikan semakin meluas.
Tuntutan terhadap pemerataan pendidikan tersebut kemudian mendorong para peneliti di Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya untuk melakukan penelitian masalah pemerataan pendidikan.
Secara metodologis, penelitian mengenai masalah ini berkembang menjadi dua corak. Pertama, penelitian pendidikan yang bersifat empiris-kuantitatif, dan kedua, berkembang penelitian-penelitian pendidikan yang bersifat terapan (action research) dalam bidang pendidikan , dalam bentuk quasi experiments.
Dari teori empirisme itulah muncul beberapa aspek yang dianggap telah memberikan pengaruh positif dalam analisis kebijakan di negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Aspek-aspek tersebut adalah pendidikan dan mobilitas sosial, pemerataan kesempatan pendidikan, serta pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu pemerintah di negara-negara maju memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap penelitian-penelitian, teruatama yang berkaitan dengan masalah pendidikan. Sebab pada urutannya penentuan kebijakan pemerintah mengenai pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh produk-produk penelitian tersebut.
Dari sekilas pemaparan mengenai ketiga teori tersebut, tampak bahwa kebijakan pemerintah, terutama di negara-negara maju, sangat ditentukan oleh peran pendidiikan. Dengan kata lain, pendidikan di negara-negara tersebut dirancang dan diformat sedemikian rupa untuk kepentingan masyarakat dan negaranya.
Salah satu contoh konkret yang dapat diambil sebagai perbandingan adalah sejarah bangsa Jepang. Pada pertengahan abad ke-18 kelompok Bunjin (sarjana humanis) memanfaatkan pendidikan untuk menciptakan visi baru dan kelas sosial baru. Bunjin menolak hierarki resmi berdasarkan kelahiran yaitu tingkatan kelas samurai, petani dan orang kota. Hierarki ini kemudian diagantinya dengan meritocracy (tidak ada yang dihargai kecuali prestasi sebagai sarjana). Akibatnya, setelah tumbangnya rezim feodal Shogun Tokugawa runtuh dan restorasi Meiji dimulai, setiap pemimpin baru adalah lulusan suatu akademi yang didirikan oleh Bunjin 70 tahun lamanya.
Oleh sebab itu tidak mengherankan bila kenyataan saat ini menunjukkan bahwa Jepang adalah negara yang diakui pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan teknologinya, tidak saja di kawasan Asia, melainkan juga di mata dunia internasional.
C. Kesimpulan
1. teori fungsionalisme adalah teori pendidikan yang memandang bahwa ascription (faktor-faktor permbawaan seperti, seperti satus sosial ekonomi, koneksi jenis kelamin, keturunan dan karakteristik individual lainnya) memberikan pengaruh yang besar terhadap mekanisme seleksi dan promosi tenaga kerja
2. Teori Human capital adalah suatu aliran pemikiran (dari para sosiolog pendidikan) yang memandang bahwa manusia merupakan suatu bentuk kapital, sebagaimana bentuk-bentuk kapital lainnya seperti teknologi, mesin tanah, uang dan sebagainya
3. Teori empirisme adalah upaya merndiagnosa masalah-masalah pemerataan pendidikan melalui penelitian-penelitian, baik yang bersifat empiris-kuantitatif maupun penelitian terapan dalam bentuk quasi experiments

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Khursyid, Principle of Islamic Education, diterj. oleh A.S Robith dengan judul Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Cet. I; Surabaya: Pustaka Progresif, 1992

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia Cet. III, Jakarta: Balai Pustaka , 1993.

Drucker, Peter F. The New Realities, diter. oleh Sri Meilyana dengan judul, Realita-realitas Baru, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1997.

Fadjar, Abdullah, Peradaban dan Pendidikan Islam, cet. I; Jakarta: C.V. Rajawali, 1991.

Little John, Stephen W, The theories Human Communication Fifth Edition (USA :Wadssworth Publishing Company, 1996.

Shadily, Hasan ( pemred ). Ensiklopedia Indonesia, Jilid VI, Jakarta : Ichtiar Baru- Van Hoeve, 1984.

Smith, Samuel, Ideas Of The Great Educators, alih bahasa oleh Bumi Aksara dengan judul Gagasan-Gagasan Besar Tokoh-Tokoh dalam Bidang Pendidikan, Bumi Aksara, 1986.

Suryadi, Ace, Gerakan Profesionalisme dalam Ilmu-Ilmu Sosial; Kasus Bidang Pendidikan , Makalah, pada Pelatihan Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan bagi Dosen PTN dan PT, oleh Dir Binlibtabmas , Depdikbud, Hotel Wisata, 14-29 Januari 2000.

Syarif, Hidayat, Pembangunan sumber Daya Manusia berwawasan Iptek dan Imtaq, dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Bisri (eds) Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi Cet. 1 , Jakarta: Logos, 1999.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam Bandung: Remaja Rosdakarya , 1991.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: