Skip navigation

URGENSI ILMU DAN AGAMA DALAM
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Oleh : Djafar Muhtar Asiari

Pendahuluan
Semangat Renaissance dan implikasinya, disadari atau tidak, masih terasa sampai sekarang. Dari itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat dan spektakuler. Ilmu dan terapannya itu telah menjanjikan dan memberikan kemudahan bagi hidup dan kehidupan manusia, pengembangan ilmu, kebudayaan dan lain-lainnya. Secara implisit kita umat manusia dituntut mampu memanfaatkannya untuk menciptakan kesejahteraan, keharmonisan dan keindahan yang terpadu.
Namun, dengan dilepaskannya ikatan tali agama sejak masa pencerahan itu, maka akal menjadi di atas segalanya. Ialah yang mengadili dan menghakimi segala sesuatu yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia. Keputusan hakim akal bagaimanapun hebatnya sebatas itu pula keadilannya tidak akan selalu diterima. Bahkan di samping itu juga bertentangan dengan fitrah manusia bisa menjadikan konflik dan menimbulkan malapetaka yang sangat mengerikan.
Ilmu dan teknologi, dalam konteks kesatuan (tauhid), tidak bisa dipisahkan dengan iman (Garaudy, 1984:84) harus diarahkan pada kesucian dan tujuan yang mulia. Karena itu perpaduan akal dan kalbu, fikir dan zikir, perlu diperhatikan secara serius dan diaktualisasikan secara berkelanjutan, meningkat mulai sekarang, dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang diridhai Allah SWT.
Eksistensi Manusia
Manusia seringkali di depannya dibubuhi dengan “umat” dimaksudkan untuk melihat manusia bukan sebagai personal semata, tetapi juga merupakan anggota dari kelompok manusia yang mempunyai tingkatan pemersatu antara anggotanya. Juga mempunyai ajaran atau panutan yang membimbing ke arah tercapainya tujuan. Di samping itu, menunjukkan perbedaan kualitas individu, sehingga memungkinkan kerjasama dan pruralitas sehingga menimbulkan persaingan antar kelompok dan mempertahankan eksistensinya (Muh. Hasyim Manan, 1990:7).
Dihadirkannya manusia di muka bumi ini bukanlah tanpa tujuan yang jelas sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian manusia (Al-Mu’minun:115) malah juga di antara mereka yang berfikiran tetapi tidak lurus dan sesat bahwa hidup di dunia ini tanpa perintah dan larangan, sehingga bisa berbuat apa saja tanpa pertanggungjawaban (al-Sabuni, III:579). Firman Allah yang mengungkapkan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi serta di antaranya diciptakan dengan haq (Al-Hijr:85) telah menghancurkan anggapan di atas. Lebih dari itu dengan memperhatikan surat al-Hijr itu dan ayat-ayat lainnya bahwa kehidupan duniawi akan berlanjut dengan kehidupan ukhrawi tempat mana manusia akan memperoleh balasan amal perbuatannya. Karena itu dikenal di dunia ini merupakan taman untuk ditanami benih-benih surgawi, idealnya, sehingga pada gilirannya hasilnya akan dinikmati di hari kemudian.
Manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah, adalah kalifah-Nya yang berkewajiban untuk mengolah dan membangun dunia ini sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam pada itu pengembangan potensi-potensi manusia secara imbang dan harmonis sebagai hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kenapa harus imbang dan harmonis? Jawabannya, karena dengan cara itu manusia akan menerima amanah dari Allah (al-Baqarah : 138) dan secara kreatif, dinamis dan optimal memenuhi kehendak-Nya. Sebaliknya, bila hanya satu aspek yang diutamakan, misalnya akal saja, bisa jadi akan menolak adanya Tuhan dan alam ghaib atau menghalalkan semua cara dengan alasan untuk kepentingan ilmiahnya atau kemanusiaan. Contohnya inseminasi buatan dari dan untuk yang bukan suami/istrinya, euthanasia (pembunuhan yang direstui) dan masih banyak lagi contohnya. Pengembangan daya kalbunya saja juga akan berakibat kurang baik pada daya-daya lainnya.
Maka, ilmu yang luas sebagai hasil olah pikir yang didasarkan pada iman dan moral yang menghujam dalam pada kalbu dan diikuti dengan ketrampilan yang unggul untuk memakmurkan dan memelihara alam raya ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan amanah Ilahiyah (khalifah).
Namun, kenyataan menunjukan bahwa apa yang dideskripsikan di atas tidak selalu ada pada setiap orang, bahkan tidak mungkin. Unggul dalam bidang Ilmu Pengetahuan (akal), kurang pada aspek zikir (kalbu) begitu seterusnya. Akan tetapi kondisi yang seperti itulah yang mendorong membentuk jalinan kemanusiaan dan ke-Ilahi-an
Adalah prinsip pokok untuk menciptakan kemajuan dan pembangunan masyarakat terciptanya interaksi harmonis manusia dengan manusia, interaksi manusia dengan Tuhan serta interaksinya dengan alam. Semakin baik interaksi itu semakin banyak yang dapat dimanfaatkan dari alam raya ini. Karena ketika itu mereka semua akan saling membantu dan bekerja sama dan Tuhan di atas mereka akan merestui (Quraish Shihab, 1992 : 161). Dan penulis “membumikan Al-Qur’an” menjelaskan “interaksi” dalam pengertian “bersahabat” (p.234).
Apa yang diungkapkan Quraish Shibab di atas sebagai yang sangat dibutuhkan dewasa ini, saat perdamaian dan kedamaian dunia terancam, bahkan oleh bangsa Bosnia tidak dinikmati.
Maka dalam situasi dan kondisi zaman seperti sekarang ini akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin dibutuhkan penciptaan al-hayah al-tayyibah dengan memininalkan segala hal yang membawah madarat dan meningkatkan amal yang membawa manfaat yang sebesar-besarnya. Lebih tegas dikatakan dengan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia; membangun manusia seutuhnya.

Urgensi Ilmu dan Agama dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kita semua bisa menikmati berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dikatakan berkat dampak positif yang kita rasakan menjadi lebih banyak. Dari yang sepeda ontel, kemudian ke yang bermesin, lalu ditambah yang tidak kehujanan. Kalau dulu mau melihat tinjunya Ali dengan Foreman harus pergi ke kota dengan jalan kaki, kini dengan duduk di tempat TV sudah nyala sesuai program yang diinginkan jasa teknologi. Ini sekedar contoh sederhana “kemudahan” yang dijanjikan ilmu pengetahuan.
Janji kenyamanan lahiriyah terasa mudah sekali diperoleh, tetapi tidak demikian halnya untuk kenikmatan batiniyah. Mengapa itu terjadi? Ada beberapa kemungkinan jawabannya. Mungkin dinilai kurang perlu menyertakan pesan-pesan ruhaniah dalam kajian non-filsafat. Bisa juga secara teknik ilmiah merepotkan. Jawaban untuk itu dinilai kurang tepat untuk dikaji lebih jauh dalam tulisan ini.
Namun, budaya baik yang telah dikembangkan pada masa kejayaan Islam saat nilai-nilai agamis selalu disertakan dalam bentuk-bentuk kegiatan ilmiah tidak dilanjutkan. Itulah yang dikehendaki oleh Barat dan pengikut-pengikutnya. Sebab, agama hanya akan menghambat bagi kemajuan ilmu dan terapannya, teknologi. Proses sekuler yang berkepanjangan itu membawa dampak negatif yang cukup besar bagi kehidupan di dunia ini.
Kenyataan menunjukkan bahwa di Amerika Serikat terdapat lima juta kejahatan pada tahun 1965 dan angka pertumbuhan kriminal berbahaya 14 kali dibandingkan angka pertumbuhan penduduk 178% dibanding 13%. Di Jerman Barat dilaporkan ada dua juta kejahatan pada tahun 1960. Diperancis kekejaman dan pencurian yang kebanyakan dilakukan anak-anak muda dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun dari tahun 1966 – 1976 meningkatkan sampai 177%. Sehingga pada Kongres Internasional Kriminologi VII di Beograd tahun 1973 disimpulkan dengan suara bulat bahwa zaman ini ditandai oleh peningkatan kriminal yang luar biasa di seluruh penjuru dunia (Izetbegovic, 1992 : 87).
Dari sumber yang sama (p.88) diungkapkan oleh Sekjen PBB sebagai berikut : Beberapa negara maju memiliki masalah yang serius dengan kejahatan. Meskipun mengalami kemajuan material, kehidupan manusia belum pernah serawan dewasa ini. Bentuk-bentuk kejahatan (terhadap pribadi maupun umum), pencurian, penipuan, korupsi dan perampokan terorganisasi menujukkan tingginya biaya ysng hsrus dibayar oleh gaya hidup modern dan kemajuan.
Kejahatan moral yang telah terjadi dua puluh lima tahun silam masih terus berlanjut hingga kini dan dilakukan dengan model yang lebih canggih. Bahkan, kata Prof. DR. Dadang Hawari dalam ceramahnya di RCTI pada bulan Ramadhan yang lalu, hubungan seperti layaknya suami – isteri telah dilakukan oleh kebanyakan remaja Amerika Serikat. Sehingga di kwatirkan “masa depan Amerika adalah masa kehancuran”.
Lebih dari itu, dan masih segar dalam ingatan kita, dengan dalih menjaga kedamaian negara-negara teluk (Timur Tengah) maka penghancuran negara sebagai yang dibenarkan. Bisa dimaknai lebih jauh, membunuh orang atau suatu bangsa untuk kepentingan uji coba kebenaran ilmu dan teknologi sebagai yang tidak dilarang. Pikiran-pikiran iblis semacam ini akan berakibat sangat fatal bisa terus berkembang.
Hal-hal negatif seperti diungkapkan diatas tidak dimaksudkan untuk menghilangkan peran Barat yang cukup besar dalam pengembangan sains dan teknologi, sehingga bidang-bidang lain seperti pertanian, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain ikut berkembang dengan baik. Akan tetapi, untuk melihatkan akibat ilmu dan teknologi yang tak dirasakan pada tauhid.

Tauhid merupakan nilai yang menembus semua aktivitas lahir maupun bathin dan mengarahkan pada kemuliaan dan kesempurnaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasarkan pada tauhid akan selalu memberikan manfaat yang sangat besar untuk menciptakan kesejahteraan yang indah dan harmonis bagi kehidupan umat manusia sebagaimana yang dikendaki oleh Allah. Bukan hanya kegiatan ilmiah saja yang perlu diasaskan atas tauhid, tetapi juga sikap perbuatan dan krenteg baik untuk melakukan sesuatu.
Tauhid (La Ilaha Illa Allah) menunjukkan bahwa hanya Dia Yang Maha Nyata itu sendiri yang layak dituhankan, lainnya tidak. Dia yang menjai sumber ihsan dan kebenaran. Dia sebagai sumber kreativitas dan mengajarkan manusia untuk pandai-pandai mengambil hikmah penciptaan langit, bumi dan semua titah-Nya. Lebih dari itu, dia juga menyiramkan kalbu dan ruhani manusia. Dan Dia adalah cahaya di atas segala cahaya. Semua sifat mulia bagi Allah itu tersimpul dalam al-asma al-Husna.
Keimanan yang anda peroleh dan anda terima dengan kebulatan hati dan usaha fikiran yang jernih tidak hanya memotivasi diri anda sendiri untuk mendirikan kerajaan kebaikan dalam diri anda, tetapi juga merambah kepada masyarakat luas. Dan kecintaan mendalam kepada Allah akan membuat anda, mudah-mudahan kita semua, insya Allah senang berhias diri dengan akhlaq (sifat) Allah.
Akhirnya kita tahu bahwa ilmu dan akhlaq yang didasarkan pada keimanan akan mempunyai dampak yang sangat positif bagi pengembangan dan peningkatan kehidupan individu maupun kelompok masyarakat. Oleh karena itu dialog antara ilmu dan moral Islami sudah seharusnya direalisasikan.

Kesimpulan
Ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai dua dampak; positif dan negatif. Keduanya akan berdampak positif bila digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan melestarikan jagad raya ini.
Ilmu, dalam pandangan Islam, tidak bisa dipisahkan dari Agama. Sehingga sebagai yang tidak dibenarkan agama bila ilmu dan terapannya bukan untuk dan diniati kemaslahatan. Dalam pada itu manusia diharapkan dapat memainkan perannya sebagai khalifah fi-al-ard sebaik-baiknya, minimal menjaga diri dari berbuat jahat. Dan nur tauhd (agama) yang terus bercahaya di dalam nurani khalifah itu akan memberi penghangat dan semangat mencapai idolanya, hubb Allah.
Akhirnya diketahui, “manusia-manusia yang mampu mengembangkan dan meningkatkan kehidupannya, berinteraksi positif dengan sesamanya, bersahabat dengan alam dan berpihak kepada Allah dalam segala tindakan“ berkat pengaruh ilmu kepada tauhid dan moral Islami.
Semoga tulisan ini, karena ridha-Nya, sekalipun sangat sederhana ada faedahnya dalam rangka memberikan konstribusi pemikiran terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia yang paripurna.

Daftar Pustaka

Azad, Abdul Kalam, Konsep Dasar Al-Qur’an (terjemah), Jakarta, Pustaka Firdaus, 1991

Boisard, Marcel A, Humanisme Dalam Islam, (terjemah), Bulan Bintang, Jakarta, 1980

Dar, Bashir Ahmad, Etika Al-Qur’an (terjemah), Liter Antar Nusa, Jakarta, 1993

Garaudy, Roger, Janji-Janji (terjemah), Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Hidayat Nataatmaja, Kebangkitan al-Islam Risalah, Bandung, 1985.

Izetbegovic, Alija Ali, Membangun Jalan Tengah, (terjemah), Mizan, Bandung, 1992

Moh. Hasyim Manan, Pengertian Ummat Dalam Al-Qur’an (makalah), IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990

Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an Mizan, Bandung, 1992

Russel, Bertrand, Dampak Ilmu Pengetahuan atas Masyarakat, (terjemah) Gramedia, Jakarta, 1992

Al-Sabuni, Muhammad Ali, Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir, Dar Al-Qur’an Al-Karim, Beirut, tt

Sarwar, Hafiz Ghulam, Filsafat Al-Qur’an (terjemah), Pustaka Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: